Rabu, 26 Oktober 2011

METODE PENELITIAN KUALITATIF PERSPEKTIF FENOMENOLOGI; SEBUAH POKOK PIKIRAN


Oleh: ZAINAL HIDAYAT

           
          Metodologi penelitian secara umum dapat diartikan sebagai disiplin ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang bagaimana kegiatan penelitians dilakukan.
Berbicara tentang penelitian setidaknya harus memahami tiga  pokok persoalan yakni: prinsip, prosedur dan proses dalam kegiatan penelitian.
          Berbicara tentang persoalan prinsip sebagai persoalan pertama,  yang menjadi masalah  adalah apa    prinsip yang mendasari penelitian kualitatif. Prinsip adalah dasar, landasan atau fondasi yang mendasari setiap kegiatan penelitian. Membicarakan tentang prinsip dalam penelitian berarti berbicara  tentang paradigma atau perspektif yang digunakan sebagai sandaran dalam penelitian. Paradigma atau perspektif secara sederhana acapkali diartikan sebagai sudut pandang atau cara pandang. Adapun menurut Thomas Kuhn  paradigma didefinisikan sebagai suatu pandangan yang mendasar tentang apa yang menjadi pokok persoalan ( suject matter ) dari suatu cabang ilmu (  dalam Alimandan, 1985: 4 ).
          Terdapat beberapa paradigma atau perspektif yang mendasari penelitian kualitatif. Salah satu diantaranya adalah yang dinamakan paradigma fenomenologi. Ditilik dari sejarah perkembangannya paradigma fenomenologi  sesungguhnya merupakan jawaban atas kelemahan  dari paradigma positivisme yang mendasari perkembangan ilmu pengetahuan ilmiah.     
          Salah satu  gagasan terpenting dari paradigma fenomenologi yang menjadi landasan pemikiran dalam penelitian kualitatiif adalah gagasan tentang bagaimana seharusnya peneliti didalam memandang realitas sosial, fakta sosial atau fenomena  sosial yang menjadi masalah didalam penelitian. Menurut paradigma fenomenologi bahwa realitas itu tidak semata-mata bersifat tunggal, objektif, terukur ( measurable ), dan dapat ditangkap oleh pancaindera sebagaimana pandangan dari paradigma positivisme. Namun berbeda dengan itu bahwa menurut paradigma fenomenologi realitas itu bersifat ganda atau dualisme dan subyektif interpretatif atau hasil penafsiran subyektif.
          Dualisme dalam pengertian bahwa dibalik sesuatu yang nampak yang dapat ditangkap oleh pancaindera sesungguhnya memiliki dimensi yang tidak nampak ( beyond the text ) yang “hidup di kepala “ manusia si pelaku. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi peneliti untuk dapat mengungkap sesuatu yang tidak nampak tersebut manakala kita akan meneliti. Melalui kemampuan dalam mengungkap sesuatu yang tidak nampak tersebut peneliti akan lebih dapat memahami makna subyektif dari setiap perilaku yang ditunjukkan oleh si pelaku sehingga akan menghasilkan penafsiran yang intersubyektif terhadap suatu peristiwa yang akan diteliti. Inilah yang dimaksud dengan subyektif interpretatif atau penafsiran subyektif. Dengan cara demikian maka peneliti dituntut untuk dapat menghindarkan diri dari kebiasaan mengembangkan asumsi-asumsi atau hipotesis yang seringkali dimiliki. Dalam kaitan ini Weber menawarkan sebuah metode atau cara yang disebut sebagai metode “verstehen” yang dalam bahasa Jerman  berarti memahami atau “pemahaman subyektif” ( dalam Johnson, 1986: 216). Atau yang oleh Craib disebutnya sebagai “reduksi fenomenologis” atau “pengurungan” yakni mengesampingkan atau mengurungkan apa yang sudah kita asumsikan kita tahu, lalu menelusuri proses untuk memahaminya ( Craib, 1986: 127 ). Hal inilah yang menjadi prinsip dari paradigma fenomenologi dalam penelitian kualitatif.        
          Dalam pokok persoalan kedua yang menyangkut prosedur, yang menjadi  permasalahan adalah bagaimana prosedur penelitian kualitatif dilakukan. Prosedur adalah tata-urutan atau langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melaksanakan penelitian. Sebagaimana lazimnya dalam setiap penelitian maka langkah pertama adalah berusaha menemukan persoalan yang akan menjadi tema penelitian ( to descovery of research problem ).  Setelah persoalan penelitian ditemukan maka langkah berikutnya menyusun desain atau rancangan penelitian yang akan menjadi pedoman bagi peneliti dalam melaksanakan kegiatan. Dalam rancangan penelitian ini memuat beberpa hal yang meliputi:
1. Latar belakang masalah
    Bagian ini menjelaskan uraian tentang apa yang melatarbelakangi  peneliti dalam     
    memilih suatu permasalahan yang menjadi perhatian peneliti. Dalam hal ini peneliti   
    dituntut untuk dapat mengemukakan fakta, peristiwa, kenyataan empiris maupun
    data yang menggambarkan suatu permasalah yang patut diteliti. Hal ini penting   
    karena semuanya itu bermanfaat untuk menjastifikasi akan urgensi penelitian  
terhadap masalah  yang dimaksud.
2. Permasalahan
    Permasalahan penelitian menuntut uraian pernyataan tentang masalah yang menjadi
    fokus perhatian peneliti. Rumusan pernyataan permasalahan ini perlu disesuaikan
   dengan jenis penelitian yang digunakan, yang dalam hal ini yakni penelitian
    kualitatif. Karena pembahasan masalah dalam penelitian kualitatif lebih fokus pada
    penggambaran proses yang terjadi pada permasalahan penelitian, dan bukannya
    pada hasil atau akibat yang justru menggambarkan suatu permasalahan, maka
    bentuk-bentuk rumusan masalah yang lebih lazim digunakan adalah mengapa,
    bagimana dan sejenisnya.
3. Tujuan dan kegunaan penelitian
    Tujuan penelitian menjelaskan tentang apa yang akan dicapai peneliti atas hasil 
     penelitiannya. Sedangkan kegunaan penelitian memuat pernyataan tentang manfaat
     yang diharapkan dari hasil penelitian, baik dalam dunia akademis atau ilmu
     pengetahuan maupun untuk kepentingan praktis. Keduanya ini agar dirumuskan
    dalam kalimat yang ringkas, jelas dan tegas.      
4. Tinjauan Pustaka
     Dalam tinjauan pustaka dikaji beberapa teori  maupun hasil penelitian yang sudah
     ada sebelumnya yang relevan dengan tema penelitian. Pembahasan atas pustaka
     yang dikaji agar dimunculkan wacana ( discourse ) diantara beberapa teori atau
     hasil penelitian yang ada. Hal ini terkandung maksud bahwa teori dalam penelitian
     kualitatif tidak semata-mata untuk dibuktikan ( verification ), namun yang lebih
     penting dari hasil penelitian ini dapat dikembangkan atau dihasilkan pengetahuan,
     kosep, dan bahkan teori baru ( falsification ).    
5. Metode Penelitian
     Pada bagian ini berisi penjelasan secara rinci  mengenai beberapa aspek yang  
     terkandung dalam metode penelitian. Beberapa aspek  tersebut meliputi:
A.    Perspektif Penelitian
Dalam perspektif penelitian ini dijelaskan alasan yang mendasari mengapa digunakan penelitian kualitatif.
B.     Pemilihan Lokasi Penelitian
Dalam hal ini perlu dijelaskan tempat dimana  penelitian akan dilakukan. Pemilihan lokasi harus betul-betul mempertimbangkan bahwa persoalan yang akan diteliti benar-benar terjadi di tempat tersebut.
C.     Pemilihan Informan Penelitian
Dalam pemilihan informan supaya dijelaskan siapa dan bagaimana pemilihan informan akan dilakukan. Kriteria yang menjadi pedoman dalam pemilihan informan  adalah bahwa yang akan dipilih benar-benar orang-orang yang terlibat langsung dengan persoalan yang diteliti. Atau setidaknya mengetahui betul mengenai persoalan tersebut. Konsekuensinya jumlah informan relatif terbatas dan berapa besarnya tidak dapat ditentukan secara baku. Adapun pemilihan dilakukan dengan menggunakan tehnik “purposive” dan prosesnya secara “snow ball”.   
D.    Fenomena Penelitian
Pada bagian ini berisi poin-poin mengenai aspek-aspek apa saja yang akan digali oleh peneliti dalam menggambarkan fenomena yang terjadi yang terkait dengan masalah penelitian. Aspek-aspek tersebut supaya dirumuskan dalam bahasa konseptual. Namun harus dipahami bahwa konsep-konsep ini hanya sebatas sebagai penuntun yang tidak dimaksudkan sebagai hal-hal yang harus ditemukan di lapangan.
       E.  Instrumen Penelitian
Dalam penelitian kualitatif instrumen utama penelitian adalah  peneliti sendiri. Karena perasaan keingin-tahuan dan kemampuan untuk menggali informasi atau data yang terkait dengan masalah penelitian hanya dimiliki oleh peneliti. Kendatipun demikian dalam pelaksanaanya peneliti sudah barang tentu memerlukan instrumen lain sebagai alat bantu seperti: catatan lapangan ( field notes ), alat perekan suara atau gambar ( tape recorder, foto camera, vidio dan sebagainya ). Oleh karena itu disini perlu dijelaskan bagaimana peneliti akan berperan sebagai instrumen pengumpul data atau informasi dan alat bantu apa yang akan diperlukan.
     F.  Pengumpulan dan Pengolahan Informasi atau Data
     Dalam penelitian kualitatif terdapat beberapa cara pengumpulan data atau
          informasi. Beberapa cara tersebut antara lain melalui pengamatan mendalam (
         observation ), wawancara mendalam ( in-depth interview ), pengamatan terlibat
         ( partisipation observation ), diskusi kelompok terfokus ( focus groups   
         discusion  ), dan bahkan melalui tehnik triangulasi, yakni penggunaan beberapa
         tehnik yang berbeda dalam satu kegiatan.
         Sedangkan pengolahan data atau informasi dilakukan melalui beberapa tahapan
        dimulai dari review catatan lapangan, pengelompokan atau kategorisasi, reduksi                                                   
        data, displai data, penafsiran atau inferensi, dan simpulan.
   Dalam pengumpulan dan pengolahan data atau informasi ini supaya dijelaskan
   tehnik yang digunakan dan bagaimana proses pelaksanaannya.
   G. Analisis Informasi atau Data
        Terdapat beberapa macam tehnik analisis dalam penelitian kualitatif. Pada
        penelitian kualitatif fenomenologi dikenal beberapa jenis tehnik analisis yang
        meliputi analisis domain ( domain analysis ), analisis taksonomi ( taxonomic     
        analysis ), analisis komponensial ( componential analysis ), analisis tema
        kultural ( discovering cultural themes ) dan analisis komparasi konstan (
        constant comparative analysis ). Dari beberapa jenis tehnik analisis tersebut    
        peneliti perlu menjelaskan tehnik apa yang akan digunakan.
       
          Pokok persoalan ketiga menyangkut proses, yang menjadi permasalahan adalah bagaimana proses penelitian yang dilakukan dalam penelitian kualitatif. Persoalan proses akan lebih difokuskan pada masalah-masalah yang semestinya diperhatikan oleh  peneliti dalam melakukan penelitian. Karena penelitian kualitatif sesuai dengan karakteristiknya yang naturalistik, maka menghendaki data atau informasi yang bersifat alamiah. Oleh karena itu kehadiran peneliti diharapkan tidak menimbulkan “kekacauan” ( unobtrusiveness ) di lokasi penelitian yang pada akhirnya dapat mengakibatkan diperolehnya informasi yang bias. Selain itu karena penelitian kualitatif menghendaki informasi yang kaya dan mendalam ( deep and rich information ), maka sudah seharusnya menjadikan informan “sebagai teman” atau subyek dan bukan semata-mata menjadi obyek penelitian. Disamping  itu penelitian kualitatif yang pada dasarnya  bersifat deskriptif maka diperlukan informasi yang kaya akan konteks. Dalam kaitan ini peneliti dituntut untuk selalu mengembangkan rasa keingin-tahuan melalui tehnik “probing”. Dan pada akhirnya kesemuanya itu akan dapat terlaksana sangat tergantung pada satu kata kunci yakni kemampuan peneliti menciptakan “rapport” atau hubungan yang harmonis dengan informan.






Daftar Bacaan
  1. Abd. Syukur Ibrahim dan Machrus Syamsudin ( alih bahasa ) : Penemuan Teori Grounded : Beberapa Strategi Penelitian Kualitatif. Penerbit Usaha Nasional. Surabaya – Indonesia 1984/1985. Judul asli : The Discovery of Grounded Theory : Strategies for Qualitative Research. By Barney and Anselm L. Strauss. Publishing by Aldine Publishing Company. Chicago.  
  2. Arief Furchan ( alih bahasa ) : Pengantar Metode Penelitian Kualitatif : Suatu Pendekatan Fenomenologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial. Penerbit Usaha Nasional. Surabaya – Indonesia 1992. Judul asli : Introduction to Qualitative Methods : A Phenomenological Approach to the Social Sciences. By Robert Bogdan and Syeven J. Taylor. Published by John Wiley & Sons – New York.
  3. Basrowi dan Sukidi. Metode Penelitian Kualitatif : Perspektif Mikro (Grounded Theory, Fenomenologi, Etnometodologi dsb. ). Penerbit Insan Cendikia. Surabaya 2002.
  4. DR. Deddy Mulyana, MA. Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Penerbit Remaja Rodakarya. Bandung
  5. John Van Manen ( editor ). Qualitative Methodology. Sage Publication. Beverly Hills/London/New Delhi 1985.
  6. Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif. Penerbit Remaja Rodakarya. Bandung 1989.
  7. Liisa Ogburn and Amy Barrows. Qualitative Research Methodes. Research Triangle Park. NC. USA.
  8. Prof. Dr. S. Nasution, MA. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Penerbit Tarsito. Bandung 1988.
  9. Prof Dr. H. Noeng Muhadjir. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi IV. Penerbit Rake Sarasin. Yogyakarta 2002.
  10. Robert Walker ( edited ). Applied Qualitative Research. Printed and bound in Great Britain by Bidlles Ltd. Guildford and Kings Lynn.
  11. Sanapiah Faisal. Penelitian Kualitatif : Dasar-dasar dan Aplikasi. Penerbit YA3. Malang 1990.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar